Jakarta, lampuhijau — Wan Azizah Wan Ismail terpaksa meninggalkan karier suksesnya sebagai dokter saat suaminya, Anwar Ibrahim diangkat sebagai orang nomor dua Negeri Jiran mendampingi mantan Perdana Menteri Mahathir Mohamad pada 1993 silam.

Seperti kebanyakan istri pejabat publik, perempuan kelahiran 1952 itu menjadi banyak terlibat dalam kegiatan sosial yang berfokus pada kesejahteraan rakyat tertutama perempuan dan anak-anak.

Namun, kehidupan tenangnya di balik layar sebagai seorang istri wakil PM Malaysia mendadak runtuh ketika suaminya dipecat Mahathir pada September 1998 lalu. Mahathir disebut memecat Anwar karena berselisih pendapat soal penanganan krisis ekonomi global yang saat itu juga menimpa Malaysia.



Tak sampai di situ, Mahathir bahkan memenjarakan Anwar dengan tuduhan korupsi dan sodomi pada 1999. Bukan hanya Anwar, saat itu Mahathir juga menahan sedikitnya 100 politikus, akademisi, hingga aktivis dari kalangan oposisi.



Sejak itu, kehidupan Wan Azizah, ibu enam anak, berubah 180 derajat. Cobaan yang menimpa Anwar itu memaksa Wan Azizah terjun langsung ke dunia politik demi memperjuangkan keadilan bagi keluarga, terutama suaminya.

Keluarga dan pendukung Anwar menganggap tuduhan korupsi dan sodomi hanya konspirasi tingkat tinggi untuk membungkam pria kelahiran 1947 itu yang bersumpah akan mengungkap korupsi yang dilakukan rezim Mahathir.




Dikutip The Los Angeles Times, pada 1999 Wan Azizah mulai membentuk gerakan pro-demokrasi seperti Gerakan Reformasi. Dia juga menjadi pemimpin organisasi non-profit, Gerakan Keadilan Sosial (ADIL) sebelum membantu mendirikan Partai Keadilan Rakyat (PKR), buatan suaminya.

Saat itu, PKR didirikan dengan tujuan mereformasi dan mendemokrasikan sistem politik Malaysia hinnga memperoleh kursi di parlemen. Tujuan Wan Azizah saat itu hanya satu, membebaskan suaminya.

Tak hanya di dalam negeri, Wan Azizah-lulusan terbaik Royal College of Surgeons di Irlandia-berupaya menggalang dukungan dari luar negeri untuk memberi tekanan kepada Mahathir supaya membebaskan Anwar.


Foto: Rahman Roslan
Wan Azizah dan suaminya, Anwar Ibrahim


Saat itu, Presiden Filipina Joseph Estrada, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Indonesia (MPR) Amien Rais, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Madeleine K Albright hingga Amnesty Internasional mendukung perjuangannya.

Wan Azizah terus menegaskan eksistensinya di dunia politik dengan mengikuti pemilihan umum parlemen 1999 bersama PKR. Saat itu PKR berhasil mengamankan lima kursi di parlemen.

Di tahun yang sama, Wan Azizah juga berhasil terpilih sebagai anggota parlemen perwakilan daerah Permatang Pauh yang sebelumnya diisi Anwar. Dia berhasil mempertahankan posisinya itu di pemilu 2004.

Pada pemilu 2008, Wan Azizah juga berhasil memenangkan kursi parlemen untuk daerah Permatang Pauh dengan dukungan 13.388 suara. Dia juga mendapat dukungan penuh dari seluruh partai koalisi Pakatan Harapan, untuk memimpin oposisi di majelis rendah parlemen.




Dia juga sempat terpilih menjadi anggota Majelis Umum Legislatif Selangor untuk wilayah Kajang pada 2014 lalu. Di pemilu 2015, Wan Azizah kembali bersaing memenangkan satu kursi parlemen untuk wilayah Permatang Pauh setelah suaminya, Anwar, didiskualifikasi karena kembali terjerat kasus sodomi.

Saat ini Wan Azizah merupakan Presiden Pakatan Harapan sekaligus Presiden PKR. Tahun ini, Wan Azizah dipercaya Mahathir, orang yang pertama menjebloskan suaminya ke penjara, untuk menjadi wakil perdana menteri setelah pria 92 tahun memenangkan pemilu 9 Mei lalu.

Wan Azizah merupakan perempuan pertama Malaysia yang didapuk menjadi wakil PM, orang nomor dua di Malaysia.




Nurul Izzah Anwar

Cobaan yang dialami Anwar tak hanya mendorong istrinya untuk terjun ke dunia politik, tapi juga putri sulungnya, Nurul Izzah.

Karier politiknya berawal saat perempuan kelahiran 1980 itu membantu sang ibu membangun PKR pada 1999.

Lulusan Master Hubungan Internasional Johns Hopkins University, Amerika Serikat, itu menegaskan karir politiknya dengan ikut bersaing dalam pemilu 2008 lalu.

Saat itu Nurul Izzah bersaing mendapatkan kursi parlemen untuk Lembah Pantai di Kuala Lumpur.

Nurul Izzah mencoba membentuk karir politiknya sendiri tanpa bayang-bayang ayahnya. Dia dengan cepat membantah asumsi yang menyebut bahwa alasan dirinya ikut pemilu adalah untuk membuka jalan bagi sang ayah untuk kembali berpolitik.


Dua Perempuan yang Terjun ke Politik demi Anwar IbrahimNurul Izzah Anwar. (Olivia Harris)



Sebab, saat itu Anwar masih tidak diizinkan terjun ke politik karena baru bebas dari penjara.

“Saya mencalonkan diri untuk warga Lembah Pantai. Jika mereka memilih saya, itu karena saya. Saya ingin memenangkan pemilu ini untuk saya dan partai saya,” ucap Nurul Izzah kepada Reuters pada 2008 lalu.

Debutnya di politik berbuah manis. Dia memenangkan pemilu 2008 itu dengan dukungan 21.728 suara mengalahkan rivalnya, Shahrizat Abdul Jalil dari partai berkuasa, UMNO.

Kemenangan Nurul Izzah dalam pemilu itu juga menandakan pengaruh oposisi terus meningkat. Jajak pendapat itu juga menunjukkan bahwa partai berkuasa mulai kehilangan suara di sejumlah daerah.




Pada 2010, Nurul Izzah dipilih menjadi Wakil Presiden PKR. Pada 2013 dia kembali mencalonkan diri dalam pemilu dan berhasil memenangkan kursi parlemen perwakilan Lembah Pantai.

Pada 2018, istri dari Raja Ahmad Shahrir itu kembali memenangkan pemilu Malaysia dan menjadi anggota Parlemen mewakili daerah Permatang Pauh. Selain sebagai politikus dan ibu rumah tangga, putri sulung Anwar Ibrahim itu juga dikenal sebagai aktivis hak asasi manusia.

(nat)

sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here